Komunitas yang berusaha senantiasa progresif dan istiqomah di jalan-Nya

Saturday, February 25, 2006

Mendayung Perdamaian Multikultural

Mendayung Perdamaian Multikultur[1]

Isu multikulturalisme selayaknya menjadi perhatian serius bagi bangsa Indonesia, setidaknya karena tiga hal. Pertama, etnisitas di Indonesia sangatlah kompleks, ada sekitar tiga ratus lebih etnis dan suku bangsa yang ada di Indonesia, yang kesemuanya memiliki tatanan budaya yang unik dan berbeda satu sama lain. Kedua, sejak awal terbentuknya, bangsa ini merupakan bangsa yang toleran, adaptif dan kadangkala sinkretis terhadap budaya asing yang masuk ke Indonesia, maka ciri ini harus terus dipertahankan untuk melakukan dinamisasi kebudayaan. Dan ketiga, karena banyaknya konflik yang terjadi di Negara kita nampaknya berbau rasialis dan agama, padahal permasalahan utamanya tidaklah terletak pada kedua hal tersebut.
Multikulturalisme dapat dipahami secara sederhana sebagai sikap mengakui adanya the others yang memiliki tatanan budaya sendiri, berdiri sejajar dengan kita, kemudian saling berinteraksi dengan harmonis dan menghargai segala perbedaan yang ada. Namun, inipun tidak mudah dilakukan karena banyaknya perbedaan (dan mungkin pembedaan) yang tidak bisa diterima oleh masyarakat. Menurut Franz Magnis Suseno, konflik yang sering terjadi dengan kedok ras dan agama bersumber pada empat hal pokok, yaitu pertama, modernisasi dan globalisasi yang telah masuk jauh ke masyarakat Indonesia menumbuhkan konflik primordial. Kedua, adanya akumulasi kebencian dalam masyarakat. Ketiga, berkembangnya budaya kekerasan secara massif dalam masyarakat Indonesia. Dan keempat, sistem politik yang dikembangkan orde baru. Semua faktor ini berkelindan membentuk budaya masyarakat yang mudah tersulut konflik. Ini menjadi tantangan bagi kita sebagai umat Islam, yang notabene jumlahnya mayoritas di Indonesia. Karena Jika bangsa ini menderita konflik yang berkepanjangan, maka yang akan mengalami kerugian terbesar tentunya umat Islam juga.
Islam, sebagai keyakinan utama kita selama ini, sangat mengakomodir isu multukultur dalam berbagai sumber hukum dan sejarah awal Islam. Al Qur’an mengajarkan bahwa tidak ada pemaksaan dalam beragama (QS 2: 256). Sejarah Rasulullah pun demikian adanya, beliau tidak memaksakan Islam sebagai agama wajib untuk orang Arab (bahkan ketika umat Islam sudah menguasai Madinah) dan tidak menolak ketika ada orang non-Arab memeluk Islam. Sepeninggal Rasulullah, di masa sahabat dan thabi’in, Islam telah terbentang dari daratan Afrika sampai Eropa. Penyebarannya dilakukan melalui jalan damai dan dapat diterima dengan baik oleh berbagai bentuk budaya setempat yang lebih dulu eksis. Maka bila akhir-akhir ini sebagian diantara saudara kita, sesama umat Islam melakukan kekerasan atas nama agama, patutlah kita menentangnya.
Sebagai Tuhan yang universal, tentunya Allah tidak akan membedakan hamba-Nya berdasarkan penampilan lahiriah semata, namun Dia melakukan stratifikasi hamba berdasarkan ketaqwaan kita kepadaNya. Maka menjadi kewajiban kitalah untuk menyebarkan Islam sebagai agama yang toleran dan menebarkan rahmat kepada seluruh alam (QS 21: 107), berlomba - lomba dalam kebaikan (fastabiq al khairat) serta pemihakan sosial kepada kaum mustadh’afien.
Jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan yang kita miliki akan menjadi sumber konflik sebagaimana terjadi selama ini. Sebaliknya, dengan manajemen yang baik kekayaan kultur yang kita miliki akan menunjukkan karakter kita sebagai sebuah bangsa yang besar. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai perbedaan sebagai sebuah keniscayaan. Menyemaikan perdamaian multikultur dapat dilakukan secara cultural maupun structural. Secara cultural, melalui pendidikan dan memperbesar ruang interaksi antara budaya yang ada di masyarakat. Sedangkan secara struktural dilakukan dengan memperkecil gap, terutama ekonomi dan sosial yang ada di masyarakat Indonesia.

BAHAN BACAAN
Abdurrahman, Moeslim. 2005. Islam yang Memihak. Yogyakarta: LKiS
Anonim. 2003. Konflik Komunal di Indonesia saat Ini. Jakarta: INIS
Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2001. Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah
Baidhawy, Zakiyuddin, Thoyibi, M. (ed). 2005. Reinvensi Islam Multikultural. Surakarta: PSB PS UMS

Gapailah setiap gudang ilmu dengan cita dan cinta pada pengetahuan
[1] Disampaikan dalam forum diskusi Imagine Community IMM Semarang, Sabtu 17 september 2005 naskah ini merupakan special gift dari forum serambi kajian multikultural 1 dan 2 yang diselenggarakan oleh PSB-PS UMS pada tanggal 22-24 Mei 2005 dan 2-4 September 2005 di Kartasura

0 Comments:

Post a Comment

<< Home